Rabu, 30 Desember 2015

Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Bukan aku membencimu atas perlakuanmu padaku. aku hanya tak mau mengingat semua kesedihan yang kau berikan, dengan menyebut namamu.
Setidaknya, kau pernah menjadi alasan bahagiaku. meski sesaat dan hanya bagai angin berlalu.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Bukannya sudah pernah kubilang? aku ini menyukaimu, sejak pertama kulihat bahagiaku dimatamu. entah kau tak sadar tapi aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Aku tak mau mengungkapkannya bukan karna tak berani, tapi karna aku tau hubungan kita tak akan bertahan lama dalam jarak sejauh ini.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Bukan aku tak mau berkomitmen atas perasaanku sendiri, aku hanya tak mau ada salah satu dari kita yang tersakiti saat perpisahan harus terjadi.

  Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Kini aku hanya mampu mengadu pada Sang kuasa, kenapa Ia tak menciptakanmu dalam jarak yang bisa kudekap(?), kenapa Ia hanya membuatku terus berharap(?). bukan aku menyalahkan Tuhan atas sakit hatiku, aku hanya tak tau lagi pada siapa dapat kubagi perih karnamu.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Andai kita tercipta sedekat Kelingking dan Ibu jari. jelas sudah kupinang kau sebagai kekasih hati.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Kini hatimu telah kau berikan kepada yang lain. tapi itu bukan salahmu. akulah yang salah karna tak mau memperjelas apa hubungan kita.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Mungkin hanya aku yang mengira berharga dimatamu. tapi ternyata salah. kurasa memang aku ini tak ada artinya bagimu. kurasa memang hatimu tidaklah pernah terbuka untukku.

   Untuk engkau yang tak ingin kusebut namanya.
   Semoga bahagia selalu bersamamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar